RajaKomen

Mendorong Inovasi Teknologi, Kegiatan Anies Baswedan dalam Era Transformasi Digital

14 Nov 2025  |  273x | Ditulis oleh : Admin
Anies Baswedan

Di tahun 2025, Anies Rasyid Baswedan terus menunjukkan kepeduliannya terhadap perkembangan teknologi dan transformasi digital, terutama dalam ranah pendidikan, tata kelola, serta pengembangan generasi muda. Berbagai kegiatan dan gagasan yang ia sampaikan menggambarkan bagaimana inovasi teknologi dapat menjadi jembatan antara nilai tradisional dan kemajuan zaman. Ia memandang transformasi digital bukan hanya sebagai isu teknologi, tetapi sebagai peluang besar untuk pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Salah satu momen penting yang banyak mendapat perhatian publik adalah kehadiran Anies sebagai pembicara kunci di International Islamic Education Fair (IIEF) 2025, yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Oktober 2025. Dalam seminar nasional bertema “Dari Pesantren ke Panggung Dunia”, Anies mendorong pesantren di Indonesia untuk aktif melakukan modernisasi melalui pemanfaatan teknologi digital. Baginya, pesantren harus tetap mempertahankan warisan spiritual namun juga berani beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar mampu melahirkan lulusan yang tak hanya religius, tetapi juga relevan secara global.

Dalam berbagai sesi diskusi, ia menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat pendukung pembelajaran. Ia bahkan menyebut AI sebagai khadam atau asisten yang membantu guru dan santri. Menariknya, ia mengingatkan bahwa guru-guru yang hanya mengulang materi secara mekanistik justru yang paling mudah tergantikan oleh teknologi. Karena itu, ia mengajak pendidik untuk memperkuat kreativitas, kemampuan analitis, dan pendekatan pembelajaran yang lebih manusiawi. Tidak hanya itu, Anies juga mendorong pesantren untuk mengembangkan kemampuan problem-solving dan wawasan global, sehingga para santri siap menghadapi tantangan di dunia internasional. Ia menambahkan bahwa “imunitas digital” penting diajarkan sejak dini — santri harus mampu menyaring informasi negatif, menggunakan gawai dengan bijak, dan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan.

Di forum lain, yakni ASEAN for the Peoples Conference (AFPC) 2025, Anies kembali menyoroti tantangan pendidikan di era digital. Dalam pernyataannya, ia mengkritik bahwa sistem pendidikan di banyak negara ASEAN masih menggunakan perspektif lama. Ia mengatakan bahwa siswa hidup di abad ke-21, namun banyak guru masih berpikir dengan pola abad ke-20, sementara ruang kelas masih tertinggal di abad ke-19. Menurutnya, reformasi pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada akses dan fasilitas, tetapi juga pada skills gap (kesenjangan keterampilan) dan dream gap (kesenjangan mimpi). Ia menekankan pentingnya menghadirkan inspirasi dan harapan bagi generasi muda agar mereka berani bermimpi besar, terutama dalam bidang teknologi, kewirausahaan digital, dan inovasi.

Keterlibatan Anies dengan generasi muda juga terlihat saat ia menghadiri acara Pionir Kesatria 2025 di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Di hadapan ribuan mahasiswa baru, ia mengajak mereka untuk menumbuhkan jiwa kritis dan semangat kolaborasi dua hal yang sangat diperlukan di dunia yang semakin digital. Menurutnya, di era teknologi yang cepat berubah, mahasiswa teknik tidak cukup hanya menguasai teori; mereka harus berani mengambil resiko, berkolaborasi lintas disiplin, dan berpikir melampaui batas-batas tradisional.

Selain fokus pada pendidikan, Anies juga terus menyuarakan pentingnya tata kelola yang transparan di era digital. Dalam sebuah dialog kebangsaan di Semarang, ia mengingatkan bahwa jabatan publik bukanlah sumber pendapatan, tetapi amanah. Transparansi, akuntabilitas, dan meritokrasi menjadi nilai yang ia dorong untuk diperkuat, terutama ketika teknologi digital bisa digunakan untuk memperbaiki sistem pemerintahan. Ia menekankan bahwa inovasi digital harus membantu menciptakan pemerintahan yang lebih terbuka, bukan menambah jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Di luar forum formal, Anies juga membagikan kisah pribadi yang menunjukkan bagaimana teknologi kini hadir dalam kehidupan keluarga. Ia menuturkan bahwa anaknya menggunakan AI di sekolah sebagai asisten menulis bukti bahwa teknologi bukan lagi sekadar wacana futuristik, tetapi bagian dari keseharian generasi muda masa kini. Kisah sederhana ini ia gunakan untuk menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat yang positif jika digunakan dengan bijaksana.

Gagasan dan kegiatan Anies Baswedan selama tahun 2025 menunjukkan komitmennya untuk terus mendorong inovasi teknologi yang inklusif dan humanis. Ia berusaha menjembatani masa lalu dan masa depan, memastikan bahwa nilai-nilai tradisional tetap terpelihara sambil mendorong masyarakat menjadi lebih kompeten dalam menghadapi era digital. Bagi Anies, teknologi bukan pengganti manusia, tetapi alat yang bisa memperkuat kreativitas, spiritualitas, dan daya saing generasi muda. Dengan peran aktifnya dalam forum pendidikan, acara teknis, dan dialog kebangsaan, Anies memberikan kontribusi positif dalam membentuk ekosistem digital yang cerdas, etis, dan berkelanjutan di Indonesia.

Berita Terkait
Baca Juga: